“Assalamu’alaikum.. Des, bapak-bapak ada acara apa pagi-pagi? Tadi saya liat suami Desi jemput abang (suami temenku,red)”, kira-kira seperti itu isi pesan singkat yang dikirim oleh salah seorang temanku, kuhentikan sejenak aktivitas memasak dan segera sibuk menekan keypad handphone menuliskan jawabanku, “ada acara Latihan Dasar Kepemimpinan untuk anak SMA, mereka panitianya. Emangnya suamimu ga cerita say?”, kutekan tombol send namun hati dan fikiranku mulai debat dan penuh tanda tanyakenapa suami temenku yang juga temen suamiku ini ga ngasi tau aktivitasnya sama istrinya tapi karena tuntutan rasa lapar kuputuskan menunggu balasan sms dari temanku sambil melanjutkan memasak dan tak berapa lama masuk lagi sms balasan dari temanku, “Ga tuh, Cuma bilang ada kegiatan itu juga pas udah mau berangkat. Lama ga sih acaranya, nyampe sore ga?”. Hmmmm….sensitifitas keperempuananku mulai terusik, kuletakkan HP di atas meja dapur dan menyelesaikan masakanku sambil berfikir jawaban seperti apa yang akan kuberikan supaya ga menyinggung perasaannya karena jujur saja tiba-tiba aku jadi ga enak karena menjadi orang yang tau kemana suamiku, ada agenda apa hari ini dan jam berapa bakal pulang ke rumah, padahal sebagai istri tentu menjadi hal yang lumrah jika aku mengetahui semua itu. Sambil menyuapkan nasi aku membalas sms temanku dan memutuskan membalas sesuai dengan pertanyaannya, mencoba mengabaikan perasaan temannya dengan mengatakan, “ga lama kok say, suamiku bilang paling jam 12-an udah kelar yaa..kemungkinan beres-beres dulu lah pulangnya habis dzuhur”. “Thx ya infonya” begitu balasan singkat dari sms yang kukirim tapi hatiku masih merasa ga enak, aah…bagaimana perasaanya ketika suaminya pergi hanya mengatakan ada kegiatan tanpa ia ketahui kegiatan apa, di mana dan jam berapa sang suami akan pulang ke rumah. Akhirnya kukatakan padanya, “oke say, sama-sama. Mungkin suamimu dihubungi secara mendadak jadi ga sempet bilang ke dirimu” kupikir setidaknya itu membuat hatinya sedikit tenang dan tentu saja membuat prasangkaku ga semakin kacau. Tak berapa lama temanku merespon dengan mengatakan, “ga papa kok Des, udah biasa” dengan menyelipkan ikon mengerling pada pesan singkatnya itu tapi ikon kerlingan itu malah membuat dadaku semakin sesak.

Istri bukan sekedar pelengkap kehidupan suami yang mempunyai tugas dan kewajiban statis; melayani suami, melahirkan, melahirkan anak, menyusui, mengurus rumah, dan lainnya. Istri mempunyai peran dinamis yang sangat penting dalam rumah tangga, bagi suami dan anak-anaknya. Istri adalah mitra seorang suami dalam berumah tangga, ia laksana manager yang mengatur hampir semua hal di rumah dengan persetujuan dan restu dari sang suami sebagai direktur rumah tangga. Ia memberikan kepercayaan, cinta dan kesetiaan seutuhnya pada sang suami, sudah selayaknya ia mendapat perlakuan yang terhormat dan penuh kasih sayang. Istri bukan sekedar pelengkap kehidupan suami yang mempunyai tugas dan kewajiban statis; melayani suami, melahirkan, melahirkan anak, menyusui, mengurus rumah, dan lainnya.Suami punya hak penuh untuk melakukan ataupun ga melakukan sebuah aktivitas apalagi aktivitas kebaikan tanpa meminta izin terlebih dahulu pada sang istri, tapi ketika seorang suami mengkomunikasikan aktivitasnya…bercerita tentang kesehariannya setidaknya hal itu membuat istri merasa dihargai, merasa menjadi bagian penting dari kehidupan suami. Setidaknya dengan mengetahui hal tersebut, sang istri bisa lebih memahami aktivitas dan rutinitas suami, dan berusaha memberikan dukungan terbaik yang bisa ia berikan dalam bentuk apapun untuk suami terkasih; entah itu ide, saran, kritik yang membangun, menyiapkan sarapan, menghidangkan makan siang, membuat makanan kecil dan minuman ringan saat suami pulang dan lain-lain yang mungkin dianggap remeh tapi jika kita mau merenungkannya, hal kecil tersebut bisa semakin menguatkan rasa sayang dan memupuk keharmonisan. Rumah tangga bukan organisasi atau perusahaan yang berjalan tanpa ruh, rumah tangga adalah ikatan kerjasama yang membutuhkan segenap jiwa agar keluarga menjadi sesuatu yang membahagiakan, menenangkan, menumbuhkan, menyejukkan dan memberikan rasa aman serta percaya. Ketika kita (suami dan istri) telah menegakkan pondasi rumah tangga dengan niat yang lurus karena Allah dan meletakkannya pada bingkai syari’at, kenapa kita tidak membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dengan cara-cara yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat serta sahabiyah, agar tercipta rumah tangga yang solid yang menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya bagi seluruh anggota keluarga dan outputnya adalah anak-anak berkualitas yang kemudian menjadi perubah bagi Negeri yang tengah sekarat ini. Walllahu’alam wastaghfirullah…

[Syukur yang tak terhingga kepada Sang Pemilik Cinta yang telah menganugerahkan kepadaku seorang suami yang baik hati dan perilakunya (meski ada kalanya nyebelin juga,hehehe….). I love you because of Allah, my hubby.. may Allah always blessing our family :*
Terimakasih atas cinta, perhatian dan kehangatan yang diberikan]

Iklan