Waktu memang terasa begitu cepat berlalu, yang pada awalnya tak terbayang akan dapat melalui hari-hari di Kabupaten yang di dominasi orang-orang Dayak sebagai salah satu suku asli Kalimantan Barat ini namun ternyata Allah memberi kemurahan dan kemudahan berupa sebuah keluarga yang hampir tiga tahun belakangan menjadi bagian dari kehidupanku.

Ramadhan yang Menakjubkan.
Kali pertama berbuka puasa Ramadhan di Kota Intan ini aku dibuat terkaget-kaget dengan penanda waktu berbuka yang tidak lazim, kalau biasa tibanya waktu maghrib atau masuknya waktu berbuka puasa ditandai dengan suara Adzan atau bedugh yang ditabuh bertalu-talu, di Masjid Raya Syuhada masuknya waktu berbuka puasa ditandai dengan suara sirine yang meraung-raung tepat dari pengeras suara Masjid yang terletak di sebelah rumah orangtua angkatku, benar-benar tanda yang unik!
Tidak hanya kebiasaan Masjid Raya yang unik, di keluarga angkatku ini ternyata punya kebiasaan menarik di bulan Ramadhan yaitu touring sholat Shubuh dan sholat tarawih dari Masjid ke Masjid yang ada di Kota Ngabang. Setiap hari kami berkeliling dari satu Masjid ke Masjid lainnya, semua penghuni rumah turut serta kecuali yang memang berhalangan tentunya. Kami sekeluarga pergi menggunakan mobil Taft milik Bapak angkatku, berdesakan kami di dalam mobil karena memang keluarga Bapak angkatku ini memiliki banyak anggota keluarga. Ramadhan pertama di Ngabang yang merupakan pengalaman Ramadhan paling menarik dan menakjubkan sepanjang perjalanan hidupku.

Ramadhan Ke Dua di Ngabang.
Ramadhan kali ke dua di Kota kecil ini tidak ada kejutan yang menakjubkan seperti halnya Ramadhan lalu namun semangat untuk menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari yang sebelumnya begitu kujaga, salah satunya dengan meminimalisir pulang ke Pontianak demi mengefektifkan waktu untuk memperbanyak tilawah. Alhamdulillah, suasana fastabiqul khairat di rumah keluarga angkatku begitu terasa sehingga membuatku bersemangat menjalankan target-targetan Ramadhan yang kubuat sebelumnya. Ramadhan yang sudah lebih stabil ritmenya di bandingkan dengan Ramadhan pertama di Kota ini meskipun tanpa kejutan-kejutan namun tetap membuat Ramadhan ke duaku di Kota ini bermakna. Subhanallah walhamdulillah walailahaIlAllah, begitu besar nikmat yang Kau berikan…

Ramadhan Ke Tiga dengan Perubahan.
Ramadhan kali ini begitu berbeda dan istimewa; Pertama, ini adalah Ramadhan pertamaku setelah menggenapkan separuh Dien, Ramadhan pertamaku bersama suami dan Kedua, ini adalah Ramadhan pertamaku di rumah baru, di rumah kami; aku dan suamiku yang juga berarti Ramadhan pertamaku berpisah dengan keluarga angkatku.
Ramadhan dengan penyesuaian-penyesuaian terhadap berbagai kebiasaan dan ritme baru antara aku dan suamiku. Ramadhan pertamaku mempersiapkan makanan berbuka dan sahur untuk suamiku, perkara ini bukan hal besar karena aku terbiasa membantu ibu angkatku mempersiapkan makanan berbuka dan sahur untuk anggota keluarga lainnya hanya saja kepuasannya ternyata jauh lebih besar ketika masakan yang dihidangkan ternyata dipuji atau diberi masukan oleh suamiku. Namun ada kebiasaan paling kusukai dan yang kemudian harus benar-benar berubah yaitu kebiasaan touring sholat Shubuh dan sholat Taraweh dari Masjid ke Masjid, sekarang harus berubah menjadi cukup dengan sholat di rumah saja karena suamiku lebih merasa nyaman sholat tarawih berjama’ah di rumah sekaligus menjadikan sholat sunnah berjama’ah di rumah sebagai sarana memuroja’ah (mengulang) hafalan Qur’annya.
Perpindahan rumah juga membuat efek psikologis yang cukup besar, jika di rumah orangtua angkatku nuansa Fastabiqul Khairatnya begitu terasa dan posisi rumah yang sangat dekat dengan masjid membawa nuansa tersendiri yang menambah kental suasana Ramadhan maka di rumah baru yang aku dan suamiku tempati ini suasananya begitu bertolak belakang, berada di kawasan padat penduduk yang heterogen dan posisi rumah yang begitu rapat dengan kondisi tetangga sebelah kiri berdempetan rumahnya dengan rumahku adalah keluarga non muslim sedangkan tetangga sebelah kanan pemilik rumah kontrakan yang kutempati lebih sering kudapati tidak berpuasa dan tetangga di belakang rumah yang sering menyalakan music dengan suara yang keras bahkan di waktu-waktu sholat sekalipun padahal mereka keluarga muslim. Bahkan suatu hari ketika suamiku mengikuti kegiatan safari Ramadhan dan aku berbuka puasa sendirian, saat itu tetangga sebelah kiriku memutar music rock dengan suara yang cukup keras dan tetangga sebelah kananku tetap asyik bercanda di halaman rumah meskipun sirine tanda masuk waktu berbuka puasa sudah meraung-raung; miris!
Tapi aku tetap bersyukur masih bisa menjalani Ramadhan dengan baik, setidaknya jauh lebih baik dari kondisi saudara-saudaraku di Palestina. Satu hal yang belakangan kupelajari dari Ramadhan ke tiga di Ngabang, bahwa Ramadhan bukan hanya sekedar symbol, menjalani Ramadhan kali ini bersama suami dengan lebih memaknai Ramadhan dan hakikat Ramadhan itu sendiri demi menggapai predikat muttaqin. Aamiin.. 16 Ramadhan 1432 H

Iklan