Sabtu pagi ini adalah hari yang sangat kami; aku dan suamiku nantikan karena setelah menunda beberapa pekan akhirnya kami memulai mempersiapkan rumah yang kami kontrak untuk dapat ditempati. Persiapan pun dimulai dengan rencana bersih-bersih rumah dan memasang beberapa slot kunci, setelah sarapan dengan semangat ’45 kami berangkat menuju rumah kontrakan kami yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah orang tua angkatku, tempat kami menumpang tinggal saat ini.

Sesampainya di rumah kontrakan dan melihat-lihat kondisi rumah yang sudah kurang lebih dua pekan tidak kami kunjungi, tanpa komando aku dan suamiku segera mengambil tugas mulai membereskan rumah, aku memulai dengan membersihkan debu-debu dan beberapa sarang laba-laba yang terdapat di langit-langit rumah sedangkan suamiku memasang kunci di pintu dapur. Tidak berapa lama kami beraksi tiba-tiba terdengar irama musik khas Indonesia;dangdut! Tentu saja dengan berbagai versi dan bahasa.

“Hmmmm…..alamat ga bakal lama nih ngontrak di sini” ujar suamiku yang hanya ku balas dengan senyuman sambil mengangguk namun di kepalaku berkecamuk berbagai kekhawatiran. “Harga rumah murah, tetangganya yang mahal” cletuknya. “Kok..?” tanyaku karena tidak begitu faham maksud kalimatnya. “Iya, harga rumah tuh bisa dibilang murah, tapi tetangganya itu yang mahal. Bisa ga kita beli tetangga kaya’ Pak Aji (Bapak angkatku sudah naik haji, jadi biasanya dipanggil pak aji singkatan dari bapak Haji tapi namanya bukan Aji :D) aja” suamiku mengulangi lagi kalimatnya dan menambahkan keinginannya punya tetangga yang keseharian dan kebiasaannya baik seperti bapak angkatku. Setelah mendengar keinginannya itu aku baru memahami maksud kalimat “Harga Rumah Murah, tetangganya yang mahal” yang dilontarkan oleh suamiku.

Terbayang jika kemudian aku hamil dan menjalani proses kehamilan serta kelahiran di rumah dengan kondisi tetangga yang tidak Islami. Sedangkan proses pembentukan karakter dan kebiasaan anak itu sendiri tidak hanya dimulai saat ia bisa mendengar atau bicara tetapi semua proses itu terjadi mulai saat si anak berada dalam kandungan sang bunda. Tidak terbayangkan jika nantinya punya anak yang lebih senang bersenandung dangdut atau lagu pop terpopuler dibandingkan dengan bersenandung Ayat Suci Al-Qur’an;Na’udzubillah min dzalik!

Itu baru satu hal belum lagi di sisi lain kita sendiri yang tentunya tidak akan merasa nyaman apalagi bisa menikmati suasana hingar bingar yang mungkin di kota hanya kita temui sesekali saat musim kawinan atau hajatan tapi di sini harus di dengar setiap hari. Menjadi PR besar untuk bisa mengkondisikan lingkungan, semoga kondisi ini tidak melemahkan kami…semoga kondisi ini memotivasi kami untuk giat melakukan pendekatan pada tetangga dan masyarakat sekitar untuk membudayakan kebiasaan-kebiasaan yang Islami.

Kuatkan kami, Rabb… –Ngabang,09 Juli 2011–

Iklan