Aktivitas mandi pagi itu menjadi sarat dengan renungan karena saat mandi pagi itu tiba-tiba terfikir tentang jadwal dan rutinitas pagiku selama dua tahun terkahir. Selepas aktivitas ruhiyah selesai biasanya langsung beres-beres kamar atau membantu ibu angkatku menyiapkan sarapan untuk adik dan bapak setelah itu sekitar jam enam lewat tiga puluh menit diisi dengan coffee break sembari bincang pagi dengan anggota keluarga lainnya sambil menunggu giliran mandi dan biasanya aku giliran paling belakang karena memang aktivitas di kantorku yang paling “longgar”. Sekitar jam tujuh pagi biasanya jadwalku mandi kemudian sholat dhuha terlebih dahulu dan terkadang masih sempat untuk tilawah dua lembar. Jadwal yang sangat memudahkan dan menyenangkan bagiku karena di saat orang-orang sudah harus apel pagi di halaman kantornya, aku masih bisa bercengkrama dengan Kekasihku meski sejenak.

Namun saat mandi pagi itu membuatku berfikir tentang berbagai kemungkinan, mengingat di instansiku bekerja mutasi kerja merupakan hal yang lumrah. Bagaimana jika suatu saat aku pindah ke Kejari yang masuknya jam tujuh teng..?? Atau bagaimana kelak jika aku sudah menikah..?? Apakah aku masih bisa sedekat, seintens dan seleluasa ini bercengkrama dengan Kekasihku..?? Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan dan terjadilah perbincangan antara otak dan hatiku;

    Akal : “tapi keimanan itu kan ga sekedar dinilai dari ibadah dzahir aja, Des”
    Hati : “ iya sih tapi ibadah maghdah itu adalah salah satu indikasi keimanan, gimana mungkin kita ngaku cinta sama Allah tapi ga ada bukti konkrit atas cinta yang kita rasakan..”
    Akal : “Allah kan Maha Tau!”
    Hati :”wooi..lupa ya kalau iman itu ga sekedar cukup di hati tapi perlu diucapkan dan juga dibuktikan dengan amal. Emangnya cukup amalan hati aja, gitu..?? Cukup dzikir aja, ga perlu sholat..Ati-ati jadi menganggap enteng agama. Ibaratnya cinta sama orang kalau cuma dipendem aje mana orangnya ngerti. Masa’ mau bilang sama pasangan atau orang tua, ‘yang penting aku cinta’ tapi sikap kita sama sekali ga menunjukkan kecintaan kita, meski Allah Maha Tau semua yang terpendam dalam hati manusia tapi tetep aja balik lagi kalau iman itu perlu bukti amal”
    Akal : “hehe…iya sih”.

Kesimpulan perbincangan antara akal dan hati saat mandi tadi pagi adalah bahwa komitmen keimanan itu perlu pembuktian. Bagaimana pun kondisinya, pindah ke tempat yang baru ataupun kelak ketika menikah dan punya anak, ketika amanah dan tanggung jawab semakin banyak dibandingkan waktu yang tersedia, hanya bisa berharap dan berusaha agar setiap hari kita menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, menjadikan kita lebih taqwa. Karena amanah dan tanggung jawab yang semakin bertambah seharusnya membuat kita semakin dekat dengan Sang Maha karena saat itu kita membutuhkan Dia lebih dari masa-masa yang sebelumnya. Tidak akan pernah ada yang sama karena perubahan adalah sebuah keniscayaan namun pastikan bahwa perubahan apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dalam kerangka menjadi hamba terbaik di hadapanNya

Iklan