Selesai sholat maghrib biasanya kulanjutkan dengan membaca Surat Cinta-Nya atau sesekali muroja’ah hafalan yang ga seberapa banyaknya. Tapi senja itu hatiku gelisah, teramat sangat….tiba-tiba teringat bagaimana nanti hasil test seleksi jaksa tahap pertama yang ku lalui beberapa hari lalu. Aku sendiri ga tau kenapa resah itu tiba-tiba memenuhi setiap sudut hati ini, padahal sebelumnya aku sendiri sudah mantap dan mempersiapkan hati untuk berdakwah di ranah hukum melalui profesi itu meski awalnya sempat ragu dengan realitas lapangan dan omongan tidak enak beberapa teman seperjuangan. Tiba-tiba saja senja itu hatiku bertanya;”kalau lulus tahap satu, apa akan tetap meluncur ke tahap dua?”. Pertanyaan yang membuatku gamang! “Bukankah kita (akal dan hati) sudah pernah membahas ini sebelumnya, lalu mengapa harus muncul kembali pertanyaan seperti itu?”, fikirku.

Lama aku terdiam di atas sajadah hijau pemberian ibu angkatku dalam balutan mukena berwarna hijau kesukaanku, mengingat kembali nasehat dan motivasi yang diberikan sahabat-sahabat seperjuangan yang selama ini membuatku berusaha tersenyum sesulit apapun medan dan pertentangan batin yang kurasakan. Tak terasa butiran hangat itu turun membasahi pipiku, sungguh…resah ini telah membuat dadaku sesak.

Rabb…jika dengan menjadi jaksa adalah hal yang membawa maslahat untuk hamba, untuk agama, dunia dan akhirat hamba, membawa maslahat bagi keluarga dan bagi dakwah, membuat hamba bertambah dekat denganMU, jika menjadi jaksa membuat hamba lebih bermanfaat untuk orang lain dalam mengaplikasikan ilmu ini, menjadi sarana kebaikan demi mengumpulkan sedikit demi sedikit kebaikan yang akan memperberat timbangan amal kebaikanku di Yaumil Akhir nanti, membuatMU bangga padaku, membuatMU selalu Menatap hamba dengan penuh cinta dan membuatMU selalu tersenyum penuh keridhaan padaku…maka bukakanlah jalannya Ya Allah serta mudahkan dan berkahilah setiap proses yang hamba lalui untuk mencapainya. Namun jika dengan menjadi jaksa membuat hamba semakin jauh padaMU dan menjauhkan hamba pada kecintaanMU, membawa mudharat bagi hamba, keluarga dan dakwah maka jauhkanlah hamba dari hal itu. Tetapkanlah untuk hamba yang baik-baik saja, di mana saja adanya dan puaskanlah hamba dengan takdirMU itu

Kuputuskan untuk mengakhiri saja semua gelisah yang kurasakan dengan doa dan alhamdulillah, it’s work! Setelah menyerahkan semua urusan ini pada Sang Pemilik dunia dan seisinya, kegelisahanku mulai berangsur reda. Tak lama berselang ibu angkatku memanggil untuk segera turun makan. Setelah makan malam, beresin meja makan, cuci piring dan berbincang sebentar dengan anggota keluarga lainnya sambil nonton TV, aku segera mempersiapkan diri untuk sholat dan melakukan ritual kecil sebelum naik ke kamarku (rencananya habis isya mau langsung tidur, makanya ritualnya dilakukan sekalian biar ga capek naik-turun tangga). Setelah sholat Isya’ kuraih Mushaf hijauku, membaca beberapa lembarnya dan segera beranjak tidur.

Tepat pukul 02.45 WIB alarm HP-ku berbunyi, mengingatkanku akan pertemuan dengan Kekasihku… lirih kulafadzkan Alhamdulillahilladzi ahyana ba’damaa amatana wa ilaihinnusyur ketika belum seluruh nyawaku berkumpul dan sesaat setelah kesadaranku benar-benar penuh, aku tertegun….karena menyadari bahwa barusan aku bermimpi; mimpi lulus test seleksi jaksa tahap pertama! Namun perasaanku saat menyadari mimpi itu biasa saja, mungkinkah ini pertanda dari Allah..? Jika bermimpi lulus, berarti……….. aah, apakah polanya masih sama?.

Dua hari kemudian, pengumuman hasil testnya keluar dan ternyata namaku tidak ada dalam daftar peserta test yang lulus untuk mengikuti test seleksi Tahap Kedua di Kejaksaan Agung. Dan inilah jawaban Allah atas resah juga doaku di senja itu. Hari ini sebuah tabir takdir terbuka, masih ada satu satu tabir lagi yang kunanti terbukanya. Apapun itu, pasti yang terbaik dariMU. Terimakasih banyak atas Cinta dan PenjagaanMU, Rabb.. I love you so much and please, don’t ever left me… [30122010]

Iklan