Lelaki yang terbilang muda itu bernama Ali Furqon Toha. Lekaki sederhana itu adalah da’i yang ditugaskan oleh Lembaga Dai Hidayatullah di Tengger,kaki gunung Semeru. Lelaki sederhana yang terkesan begitu telaten, hangat dan ramah kepada masyarakat lereng Semeru. Di sela-sela tanggung jawan dan kesibukannya sebagai dai, ia berusaha tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Aku mengenalnya melalui sebuah kotak bernama televisi pagi tadi dalam sebuah tayangan di salah satu stasiun TV swasta. Mungkin bagi orang lain biasa saja tapi entahlah, melihat tayangan itu membuatku terkesan sekaligus terharu…

Kepedulian, Ketulusan dan Ikatan Hati
Kehadiran lelaki yang ditugaskan berdakwah di lereng Semeru ini awalnya tidak begitu diterima baik oleh masyarakat sekitar, mungkin karena ketidaktahuan masyarakat namun da’i ini tidak menyerah begitu saja. Jangan bayangkan ia akan membeli perhatian dan hati masyarakat dengan harta namun ia begitu sabar mendapatkan hati masyarakat dengan kepedulian yang diberikan dengan segenap cinta dan ketulusan, setiap hari ia mengunjungi masyarakat, memberikan perhatian..kepedulian dan akhirnya masyarakat bisa melihat ketulusannya karena sesuatu yang lahir dari hati akan diterima oleh hati.
*
Lalu aku teringat pada diriku, kamu dan mereka…sejauh mana kepedulian kita pada masyarakat yang tinggal di sekitar kita. Bukankah Rasul yang kita cintai mengajarkan kita untuk selalu memperhatikan hak-hak tetangga, tiga puluh rumah di radius kiri, kanan, depan dan belakang rumah kita? Bahkan setelah selesai sholat di masjid pun seringkali kita langsung ngacir pulang, entahlah….mungkin terlalu sibuk untuk sekedar menyalami jama’ah masjid dan menanyakan kabar kesehatan hati dan jasad saudara seimannya apapun “pakaian” maupun madzhab yang mereka yakini. Kalimat “La ilahaIlallah Muhammadarusullah”-lah yang menjadi dasar ikatan hati-hati kita.

Keberkahan Langkah
Bahwa hasil dari perjuangan sang dai tak dapat dilihat dalam sekejab mata, keyakinan atas janji Allah dan kecintaan padaNYA yang membuatnya bertahan pada masa-masa sulit di awal perjuangannya. Kesabaran dan keikhlasan tentu tak akan pernah sia-sia di Mata Allah, keberkahan demi keberkahan atas setiap langkah yang diayunkan menjejaki lereng Semeru itu kemudian membuat seorang dai lokal yang menderita tuna netra bergabung bersama lelaki sederhana ini dalam membangun peradaban masyarakat di kaki gunung Semeru. Membuat seorang pemuda yang dulunya begitu membenci sang dai berubah menjadi orang yang saat ini membantu dakwahnya. Memang dakwah tidak selalu berhasil baik secara kualitas maupun kwantitas karena memang orientasinya bukan sekedar hasil tapi lebih dari itu, seberapa besar usaha dan kesungguhan kita dalam mencapai hasil yang diharapkan.
*
Teringat pada aku, kamu dan mereka yang mudah mengeluh maupun bersedih hanyak karena objek dakwah kita tidak seperti yang kita harapkan sedangkan begitu banyak waktu, tenaga dan fikiran yang kita curahkan untuk mereka..lalu kemanakah semua keikhlasan yang harusnya menjadi modal utama? Bukankah Nuh yang seorang Nabi pun hasil dakwahnya tak signifikan namun ia selalu mengembalikan semua kesedihannya pada Sang Maha…

Konklusi
Bahwa dakwah tidak dapat dilakukan seperti layaknya profesi yang mengharapkan timbal balik, dakwah hanya akan efektif dan sarat makna jika dilakukan dengan hati, dengan segenap ketulusan yang memunculkan totalitas dan kesungguhan. Maka semua yang kita lakukan akan mengalir begitu saja, mengenai hati karena yang kita lakukan sesungguhnya lahir dari hati. Hati yang rindu pertemuan dengan Penciptanya, hati yang rindu tatapan penuh cinta Pemiliknya, hati yang haus senyum keridha-an Kekasihnya……

Iklan