kubiarkan puluhan –atau entahlah aku tak sempat menghitung– kalimat pedas, sindiran dan sumpah serapah itu meluncur, menghujanimu!
Kau bahkan lebih dari pantas menerima sekedar sumpah serapah orang-orang terdzalimi yang menjadi korban sgala perlakuanmu!
Semua belati kata dari kemarahan dan kecewaku kulemparkan tepat mengenai hatimu…tanpa fikir panjang, tanpa menimbang akibat. Yang kurasakan hanya amarah yang membuncah!

Namun apa lacur, semua tentang amarah dan kecewa itu telah menjelma dalam badai yang memporak-porandakan hati; hatimu dan hatiku…
Engkau luka dengan sayatan pisau kata yang terlanjur kulemparkan bertubi-tubi padamu,
dan sungguh..aku pun terluka pernah memuntahkan amarah yang begitu mambakar hatiku!
Tak ada yang tersisa, selain luka dan penyesalan!

Seperti menyayat kembali setiap goresan luka,
ketika mencoba memandang ke belakang..mengingat keping kenangan.
Semua yang terucap kemudian hanya menambah luka,
terdengar parau ditelinga menambah perih hati kemudian jadi saling menyakiti!
Tak ada yang tersisa dari luapan amarah tempo hari,
laksana abi memakan kayu bakar;hanya menyisakan abu!

Untuk apa lagi rangkaian penjelasan jika hanya menambah prasangka dan air mata.
Satu hal yang membuatku menyesali semua belati kata yang kutikamkan tepat mengenai hatimu,
mengusik harga diri dan kemanusiaanmu…..seburuk apapun lakumu!
Bahwa aku melewatkan kesempatan memperoleh kemuliaan yang Dia berikan padaku, melalui kau!

*Mengingat saat itu, ketika amarah itu untuk membuncah….untuk pertama kalinya. Bukankah aku mengetahui bahwa sabar itu ada pada pukulan pertama dan sesaat setelah memuntahkan amarah itu, aku menyadari bahwa aku hanya manusia lemah….yang membutuhkanNya untuk bisa menjadi seperti yang Dia inginkan*

Iklan