Hampir genap sudah dua belas bulan berlalu;
Gelak tawa maupun bulir air mata silih berganti,
Kegembiraan dan luka tak dapat dihindari, sesuatu yang pasti!
Mentari dan bulan entah berapa kali berotasi mengitari bumi,
sesekali pelangi hadir ciptakan keindahan dalam sunyi.

Aku;
masih saja tertatih, mencoba membaca isyarat,
saat gundah sesekali merajai hati.
Ketika rasa menjadi pengikat,
Haruskah ku buang dalam sudut hati?

Waktu;
terus bergulir tanpa pernah mau berdamai,
meski tersengal memohon agar tak beranjak.
Mengurangi setiap jengkal usia yang tersedia,
pun kini telah mencapai bilangan tiga puluh!

Penantian;
membuatku larut dalam buain,
memintal untaian sabar dalam keimanan.
Menghapus sgala gundah dan rasa takut,
menanam benih ikhlas dalam stiap helaan nafas.

Dia;
entah siapa nama yang telah tertulis di Lauful Mahfudz,
padanya kelak kuberikan hatiku.
Dengan segenap keta’atan karena Rabbku,
berharap ridhonya menjadi Firdausku.

Cinta;
sungguh, aku takut rasa ini datang sebelum waktunya
hanya karena buaian dan tipu daya setan.
PadaMu ku meminta,
biarlah rasa itu indah pada waktu dan orang yang tepat.

Asa;
semoga tak akan lapuk oleh waktu,
menyemai setiap mimipi yang tertanam.
Menumbuhkan pohon optimisme,
akan indah masa depan perjuangan.

Doa;
menjadi pengobat sgala resah,
lirih terucap dalam sunyi sepertiga malam.
Menjadi telaga menyejukkan bagi hatiku,
dan ku harap juga untuk hatimu.

Hampir Genap Dua Belas Bulan berlalu;
dan aku masih di sini di dalam penantian,
setia menanti dalam pencarianmu, pencarianku; pencarian kita!

–12122010–

Iklan