Dua belas dan lima pekan, berlalu;
sinar mentari, kemudian tertutup awan
spektrum warna, lalu pias kelabu
hiruk badai dan keceriaan hujan

Waktu;
pernah membiarkan jiwa ini lirih
larut bersenda dalam kubangan perih
hitungan pekan terlalu banyak bilangan
bulan pun akan mencapai belasan

Dunia;
memang bukan surga madani
tak pernah menjanjikan kebahagiaan abadi
jika suka cita serta merta ditelan
mengecap pahit semestinya tak susah, bukan?

Hati;
tak berani lancang membajak euforia
tak ‘kan angkuh mengatakan baik-baik saja
bila senak bermain di balik tulang dada
jika derita merangsang syaraf air mata

Aku;
masih saja menjadi pengeluh
tak pernah menggapai tiang yang kukuh
tak berdaya, lemah kala sendiri
tertatih, meniti jalan keikhlasan sejati

Harapan;
semoga ini tak pernah mati…
Titik-titik air, pasti terbiaskan sinar mentari
selepas hujan.

copas puisi karya Refid Ruhibnur

Iklan