Optimism means expecting the best, but confidence means knowing how to handle the worst. Never make a move if you are merely optimistic.(The Zurich Axioms).

Pendahuluan.
Sering kita seperti harus mendefinisikan kata sukses. Atau bahkan –kadang- kita harus mendefinisikan tingkat kesuksesan orang atau pihak lain. Saya kerap menghindar dari pertanyaan itu. Kalau ada orang yang mempertanyakan kesuksesan dirinya sendiri, saya cenderung menyebutnya sebagai orang sukses. Saya bahkan kerap menyebut keunggulan keunggulan orang lain diminta atau tidak diminta, tentu sambil menjaganya untuk tidak berdampak negatif. Kalau pertanyaan yang dilontarkan kepada saya berkaitan dengan kesuksesan pihak lain, saya semakin menghindar. ’Pak, apakah si fulan itu sukses?’, jika pertanyaannya semacam itu, maka saya semakin menhindarinya. Mungkin mendiamkannya.
Bukan tak memiliki jawaban. Ada. Bahkan jawaban saya agak panjang, maka saya kerap menghindari pertanyaan pertanyaan semacam itu, karena kerap kali saya seperti harus menjawab dengan cepat dan memuaskan penanya. Saya tak mampu menjawabnya dengan tuntutan semacam itu.
Tapi kali ini saya ingin menuliskan soal definisi sukses.

Definisi Sukses.
Rasanya kata sukses memang tidak perlu didefinisikan. Meski rasanya setiap kita sudah memiliki definisi tentang sukses. Yang boleh jadi memiliki makna yang berbeda dengan makna gramatikal. Tetapi bolehlah kita, pada kesempatan pertama ini menyempatkan diri menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI mendefinisikan sukses sebagai ; ’berhasil ; beruntung’.

Tentu tak ada yang salah dengan sukses dalam definisi di atas. Semua kita ingin sukses. Semua kita ingin berhasil dalam segenap usaha kita. Dan semua kita ingin beruntung dalam semua urusan kita. Tentu kita ingin sehat selalu dalam hidup ini. Maka sehat adalah sukses dalam artian tertentu. Dan sakit adalah gagal. Pelajar ingin lulus, maka lulus adalah sukses dan tinggal kelas adalah gagal. Pedagang ingin laba, maka rugi adalah gagal dan laba adalah sukses. Setiap manusia ingin tercukupi kebutuhannya, ingin kaya, maka kaya adalah sukses dan miskin adalah gagal. Rasanya ini wajar.

Tetapi harus diingat bahwa ujian hidup ini selalu dalam 2 kategori saja. Yaitu ; ujian dalam bentuk kesuksesan (khoirun) dan ujian dalam bentuk kegagalan (syarrun). Kita hanya tak bisa mengerti ujian dalam bentuk apa yang cocok bagi kehidupan kita. Kita hanya tak boleh merasa lebih tahu dan menyalahkan Allah karena memberi ujian tidak seperti yang kita inginkan. Maka doa yang diajarkanNya adalah ;
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Karena kita tak lebih tahu dari Allah swt, karena kita tak boleh merasa lebih tahu dariNya , dan kita tak memiliki pilihan atas apa yang sudah menjadi ketetapanNya, maka kita berharap dan memohon kepadanya untuk sebentuk ujian yang kita sanggup memikulnya. Kita tak bisa menyalahkan pilihan Allah swt kepada kita. Allah maha Besar dan segala puji untukNya.

Memang berdoa itu disunnahkan untuk meminta yang baik baik saja. Doa yang baik adalah doa yang meminta kesehatan, kekayaan, kemudahan, keringanan, kesehatan, kebaikan dan hal semacamnya. Ini tak salah. Kendati semua hal yang kita sebut itu adalah hal hal yang baik (khoirun) dan seperti mengabaikan hal hal buruk (syarrun), doa itu tak salah. Maka wajar jika dalam keseharian, kita kerap diminta mendoakan seorang yang sakit agar sembuh, mendoakan agar kaya, mendoakan diri dan orang lain agar lulus, dan semacamnya. Itu wajar, hanya perlu dibersamai kesadaran bahwa ujian hidup itu ada yang bersifat kebaikan dan disuka serta ada yang berbentuk kesulitan yang tak disuka manusia. Mari kita sepakati kesimpulan pertama ; sehat adalah sukses dan sakit adalah kegagalan, kaya adalah kesuksesan dan miskin adalah kegagalan, lulus adalah sukses dan tidak lulus adalah gagal, laba adalah sukses dan rugi adalah gagal, dan semacamnya.

Saya sebut kesimpulan pertama karena ada hal selanjutnya yang harus kita bahas.

Bagi orang miskin, orang kaya adalah orang sukses. Bagi orang sakit, orang sehat adalah orang sukses. Dan seterusnya. Tapi bagi sesama orang kaya, ada orang kaya yang sukses dan ada orang kaya yang gagal. Bagi sesama orang sehat, ada orang yang sukses dan ada orang yang gagal. Bagi sesama pelajar yang lulus sebuah ujian, ada pelajar yang sukses dan ada pelajar yang gagal. Bagi sesama pedagang yang laba, ada pedagang yang sukses dan ada pedagang yang gagal.

Bukan itu saja makna dari soal sukses. Ada makna lainnya.

Makna lainnya itu adalah soal di ujian selanjutnya bagi masing masing kelompok tersebut. Bagi sesama orang sakit, ada orang sakit yang sukses dan ada orang sakit yang gagal. Bagi sesama orang miskin, ada orang miskin yang sukses dan ada orang miskin yang gagal. Bagi pelajar yang tidak lulus dan bagi pedagang yang rugi, berlaku juga hal yang sama. Di antara mereka ada yang sukses dan ada yang gagal. Contoh ; orang kaya yang sukses adalah orang kaya yang bersyukur dan orang kaya yang gagal adalah mereka yang tak peduli dengan sesama. Orang miskin yang sukses adalah mereka yang bersabar dan terus menjaga iffah. Sedangkan orang miskin yang gagal adalah mereka yang menggadaikan kehormatan dirinya. Ini sekadar contoh, anda dapat merangkai contoh lainnya.

Nabi Muhammad saw memberikan bekal hebat bagi kehidupan kita ;
”Wahai semua manusia, jangnlah kamu berharap harap bertemu dengan musuh. Kepada Allah, mintalah hal hal yang baik (al ’afiah). (tetapi) jika bertemu dengan musuh, bersabarlah. Ketahuilah bahwa surga itu terletak dibawah kilatan pedang”(Mutafaqun ’alaihi)

Bagi seorang prajurit dan pejuang, menang adalah sukses dan kalah adalah gagal. Tapi tak perlu meminta hal hal yang berat semacam bertemu musuh. Sunnah rasul adalah meminta hal hal yang baik, ringan, mudah dan nyaman. Jadi, tak mengapa kita berdoa untuk hal hal semacam itu. Namun ketika hal hal berat dihadapkan kepada kita, maka sabar adalah hal yang harus kita lakukan.

Kita disunnahkan untuk berdoa untuk kesehatan kita dan tak perlu meminta kita diuji dengan sakit. Tetapi ketika sakit itu datang, bersabar adalah jawabannya. Kita memohon dengan sangat agar kaya. Ini sunnahnya. Tak perlu meminta agar dimiskinkan, tetapi ketika miskin itu datang, kesabaran adalah hal yang sangat membedakan dengan orang miskin yang gagal. Tak salah jika kita memohon lulus dan laba dalam bisnis, tak perlu meminta sebaliknya. Namun ketika hal sebaliknya yang menjadi fakta kehidupan kita, sabar adalah hal yang membuat kita istimewa dan sukses.

Memang ini tak mudah. Maka, semoga Allah terus menjaga kecerdasan dan kesabaran kita. Amiin..

Penutup.
Tulisan di atas adalah global. Sedangkan hidup ini detil. Rinci. Dan khas. Perasaan gagal itu menyergap bukan pada hal hal global. Bahkan sebaliknya, ia menyergap pada hal hal yang detil. Perasaan gagal bisa terjadi pada diri seorang gadis muda karena jerawat, perasaan gagal bisa terjadi karena putus cinta pada seseorang, dan perasaan gagal bisa terjadi pada sosok ayah yang tak bisa membayar SPP anaknya yang sekian ribu. Soal warna dan merk mobil bisa menjadi point kegagalan., Maka perasaan gagal bisa terjadi pada seorang laki laki karena tak bisa membeli mobil merah seperti kompetitornya, perasaan gagal bisa terjadi pada seorang ibu yang tak bisa memiliki barang seperti milik tetangga atau kawannya, perasaan gagal bisa terjadi pada seorang pejabat karena tak bisa memiliki jabatan seperti teman seangkatannya, dan hal semacam itu adalah contoh yang lebih detil dari makna kesuksesan dan kegagalan. Tapi tetap saja contoh itu berasa global. Tak akan pernah ada tulisan saya yang sangat detil soal ini karena hidup ini pasti sangat lebih detil dan sangat lebih rinci.Memang soal ini dan soal yang lain adalah hal yang tak mudah bagi kami. Maka, semoga Allah terus menjaga kecerdasan dan kesabaran kita. Amiin….

Sebuah Tulisan oleh Eko Novianto (dengan sedikit perubahan judul)

Iklan