….Dan ijinkan aku juga menghargai sesutau yang sederhana, gradual, dan tak terlalu memukau. (Oleh:Eko Novianto)

Pendahuluan
Ada buku yang aku beli di mini market Gontor. Buku yang aku beli tanpa perencanaan. Aku membelinya begitu saja ketika aku menuntaskan janji untuk membelikan buku anak anakku. Istriku memandang dengan wajah masam untuk pembelian buku diluar rencana ini. Aku memasang wajah iba dan setelah itu suasana berlangsung cair. Aku minta maaf setelah lewat beberapa saat dan istrikupun memaafkanku. ini prosedur biasa dalam dalam ketatalaksanaan rumah tangga kami.

‘Lobang Di Tembok Pikiran’, judul buku itu. Berisi kisah kisah bijak. Sebenarnya aku cuma ingin membaca beberapa kisah saja. Tak banyak. Selebihnya aku tak mengerti di mana letak bijaknya. Sebagian besarnya tak mudah aku ingat dan karenanya kisah itu kehilangan bobotnya. Salah satu kisah yang aku hafal luar kepala adalah judul kisah yang aku tulis menjadi judul tulisan ini. Tak mudah bertepuk tangan. Aku pilih kisah ini sebagai kisahku. Rasanya sebagian kisah itu adalah kisah tentang aku

Salah Satu Kisah
Seorang doktor sedang menyaksikan sirkus bersama temannya. Pemain sirkus mempertontonkan kebolehannya. Melompat ke sana kemari dengan sukses. Berayun ke sana kemari tanpa kesalahan. Berlari dan berguling dengan gerakan yang tak mudah dilakukan oleh orang biasa. Semua dilakukannya nyaris tanpa cacat. Segera setelah selesai, penonton menyambut sikap hormat para pemain sirkus dengan tepukan gemuruh. Pemain dan penonton sangat terpuaskan dengan pertunjukkan. Kecuali sang doktor. Sang doktor tak bertepuktangan.

Kawan sang doktor menanyakan alasan dari pilihan sikap sang doktor. ‘Perjalanan hidupku mengajarkan aku untuk tak mudah bertepuktangan melihat aksi aksi akrobatik’, demikian jawab sang doktor. Kisah ini selesai sampai disini.

Apa arti kisah di atas? Entah…..

Aku suka kisah itu. Oleh karena itu aku hafal kisah ini di luar kepala.

Aku memang lebih suka sesuatu yang linier. Promosi promosi untuk bergerak dengan kuantum yang memukau tak menggodaku. Aku lebih menghargai cara sederhana tapi konsisten dari pada melompat lompat yang memang memukau. Aku lebih suka cara biasa dari pada cara akrobatik yang menantang.

Aku adalah aku. Aku dibentuk oleh zamanku. Aku menjadi tak mudah menepukkan tanganku untuk hal hal hebat. Aku merasa nyaman dengan hal biasa kendati hal biasa itu tak menjadi perhatian banyak orang. Jika hal sederhana itu, hal biasa itu dan sesuatu yang remeh itu tak mendapat perhatian dunia, aku berusaha keras mengapresiasinya. Jika hal hal hebat itu memukau dunia, aku justru tak akan mudah bertepuk tangan.

Kualitas kehidupan ini menurun setahap demi setahap secara perlahan. Membangunnya kembali –rasanya- hanya bisa dengan cara yang gradual dan konsisten. Pelakunya harus memiliki determinasi. Pelakunya harus menyadari soal pewarisan nilai dan menyadari kewajibannya untuk meneruskan nilai pada generasi berikutnya. Pelakunya harus bisa menyisihkan ego. Pelakunya harus berorientasi ke depan, membangun pondasi bagi langkah selanjutnya dan merelakan perannya diganti. Maka ijinkan aku juga menghargai aksi aksi yang tampak biasa.

Kualifikasi pekerjaan para pejuang kebaikan kerap kali tak akrobatik. Meski kadang aksi akrobatik itu tak terhindarkan, tetapi pekerjaan ini membutuhkan perencanaan dan kesabaran daripada tepuk tangan puas penonton. Kerja pejuang kebaikan bukanlah hanya pada hal hal yang akrobatik itu. Kerja ini membutuhkan determinasi. Tentu seorang yang memiliki keunggulan dan sanggup melakukan akrobatik akan mempercepat tercapainya sebuah tujuan. Orang semacam ini –sanggup berakrobatik dan konsisten- akan sangat membantu gerakan, tapi orang semacam ini tak banyak. Dan memang apa yang kita sebut akrobatik itu juga sangat relatif bagi masing masing kita.

Tapi memang aku dibentuk oleh zamanku. Dan orang lain juga dibentuk oleh zamannya yang bukan zamanku.

Penutup.
Itu aku. Itu kami. Tapi memang ada banyak orang hebat di sini. Maka, jika ada perbedaan, itu suatu yang wajar. Itu kami. Itu aku. Aku menghargai aksi akrobatik. Tapi aku tak bisa mudah bertepuktangan. Dan aku tak punya saran untuk aksi itu.

Iklan