Demi keikhlasan dan kesucian hati, kumohon….hentikan semua amarah dan kebencian itu. Rasa yang akan meluluhlantakkan semua kebaikan di hadapanmu, rasa yang hanya membuat dadamu kian sesak oleh kecewa dan penyesalan tiada berujung, rasa yang tak akan membuahkan apapun selain air mata yang tak pernah mengering, luka yang semakin menganga dan nestapa yang berkepanjangan.

Memang tidak mudah memaafkan, memberi maaf pada seseorang yang telah menyalah gunakan amanah maupun kepercayaan yang bahkan dengan susah payah dibangun. Dan mungkin akan lebih sulit lagi jika tak sekedar cukup berkhianat, kemudian menyakiti atau mendzalimi bahkan menghina dengan ucapan dan sikap. Sebuah kompleksitas perlakuan yang secara nalar dan logika sebagai manusia biasa tidak dapat ditolerir untuk dimaafkan.

Ya, benar. Saya ulangi lagi; tidak dapat ditolerir secara nalar dan logika sebagai manusia biasa, karena manusia bukan malaikat yang hatinya tak dapat terluka, bukan bidadari yang tak dapat menangis menahan sesaknya amarah, bukan makhluk yang tak dapat merasakan apapun ketika dilukai. Sebaik apapun seorang manusia, ia tetaplah manusia yang memiliki hati dan rasa. Namun manusia biasa dibalik sgala kekurangannya sebagai makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan, seorang manusia yang dianugerahi hidayah bernama keimanan….sesulit dan sesakit apapun proses memaafkan itu, ia akan terus berusaha.

Mengikhlaskan dan memaafkan tak lantas membuat rasa sakit itu hilang begitu saja. Luka tetaplah luka, ia akan meninggalkan bekas meski telah mengering dan sembuh sekalipun. Namun jangan jadikan itu sebagai penghalang apalagi hambatan untuk mulai menempuh proses panjang meraih kelapangan dengan memaafkan. Biarlah semua rahasia hati itu tetap menjadi rahasia dan berharap waktu kan berbaik hati untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan atau sesederhana memahami materi yang didapatkan dari ceramah maupun buku-buku agamis. Memaafkan merupakan sebuah proses panjang yang menguras energi dan konsentrasi juga emosi namun pada hakikatnya kita juga membutuhkan proses itu karena disadari atau tidak, berbagai rasa yang tersimpan sebelum proses memaafkan itu berhasil maka akan menimbulkan aura dan energi negatif yang jika terlalu lama mengendap dalam hati dapat menimbulkan berbagai efek yang merugikan.

Sulit difahami, bukan…? Bagaimana mungkin seseorang yang telah disakiti, didzalimi malah menjadi orang yang dirugikan karena belum memaafkan. Bukankah yang hak orang yang didzalimi untuk tidak member maaf..?? Bukankah seharusnya mendapatkan efek negatif dan berbagai keburukan lainnya adalah orang yang telah begitu tega dan tak punya hati mendzalimi dan menyakiti orang lain..?? Memang banyak sekali hal yang sulit difahami di dunia ini, teman….karena dalam hal ini logikanya bukan seperti matematika.

Percayalah, memaafkan akan jauh lebih membuat hati merasa lapang…nyaman dan tentunya akan menghilangkan berbagai efek dan energi negatif yang menumpuk dari hati. Menghilangkan noktah-noktah hitam dari hati, membuatnya bisa bernafas lega…membuatnya memancarkan aura dan energi positif. Maka lepaskanlah semua beban itu, biarkan semua debu amarah itu beterbangan ditiup angin kemaafan…biarkan semua bibit kebencian itu hangus oleh luapan lahar keikhlasan. Kemudian Sang Maha akan bekerja, menganyam benang-benang kebaikan menjadi selendang indah yang kelak akan kita kenakan. Dan tak ada yang lebih indah selain tatapan cinta Sang Maha padamu; orang-orang yang bersusah payah menjalani proses panjang nan melelahkan bernama MEMAAFKAN.

Iklan